Select Language

【tidak lagi diadakan】’Masalah Peri’ (‘The Question of Fairies’) Online Tour

Theater company Q by ICHIHARA Satoko

ABOUT

Aku tak terlihat.
Aku dibuat menjadi tak terlihat.

Hanya karena sesuatu tak terlihat bukan berarti ia tidak ada. Ditampilkan oleh kelompok Teater Q. Masalah Peri terinspirasi dari pembunuhan terhadap penghuni panti penampungan difabel di kota Sagamihara, Prefektur Kangawa. Menggunakan istilah "faeries/peri" yang dianggap tak pernah ada dan memunculkannya sebagai obyek diskriminasi dan kebencian di masyarakat kontemporer Jepang. Ditampilkan sebagai salah satu program dalam Kyoto Experiment 2018. Mengambil isu-isu yang sudah jamak seperti standar kecantikan, diagnosa prenatal, dan modifikasi genetik, yang dibaca dengan perspektif non-manusiawi dari seekor kecoa dan bakteria simbiotik, dan mengambil pendapat yang radikal tentang kehidupan manusia dan seks. Pertunjukan terdiri dari tiga bagian, Bagian 1 berjudul "Buruk Rupa" dalam format Rakugo; Bagian 2 berjudul "Kecoa," dalam bentuk show lagu populer, dan Bagian 3 berjudul "Mekghurt" dalam bentuk seminar yang aneh. Ketiga bagian mengambil bentuk yang berbeda dan ditampilkan hampir seluruhnya oleh Kyoko Takenaka sendiri. Personanya yang unik dan janggal membuat para penonton memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang dipaparkan ke hapadan mereka, dan terkadang diam-diam menolak untuk sepakat pada pertunjukan. Dalam pertunjukan versi online ada aktor-aktor baru yang ditambahkan, selain itu Bagian 1 berubah menjadi perbincangan daring. Bagian 2 menjadi video musikal, Bagian 3 menjadi web seminar. Penonton juga berubah posisinya, kini berada di seberang layar menonton pertunjukan secara berbeda.
Untuk Tur online Masalah Peri, kami menyelenggarakan sesi wicara seusai streaming pertunjukan versi panggung (untuk China) dan pertunjukan edisi online format baru (untuk Indonesia) berkolaborasi dengan aktor-aktor lokal, dan bekerjasama dengan produser lokal, pengamat, dan peneliti. Perspektif pada isu-isu gender, kecantikan/keburuk rupaan, dan difabilitas diperhatikan dalam karya ini, dan pandangan-pandangan umum mengenai isu tersebut pada konteks masing-masing tempat tergantung latar belakang para penonton yang akan hadir. Sesi wicara akan membantu pemahaman yang lebih baik atas karya ini dengan menampilkan konteks masyarakat kontemporer Jepang, yang merupakan latar belakang karya ini pada penonton. Hal ini juga akan memancing dan menimbulkan reaksi, termasuk alienasi maupun tentangan dari penonton lokal yang konteks sosialnya berbeda dengan penonton Jepang, dalam rangka untuk memperlihatkan apa yang "tak boleh dilihat" dari titik berangkat yang sama antara Jepang dan lokalitas. Praktik ini dapat diperkirakan akan menumbuhkan kebutuhan untuk memeriksa ulang lagi apa yang dapat menjadi nilai bersama bagi kreator dan penonton.

Distribusi subtitle bahasa Mandarin

Tanggal: 29 (Sabtu) – 30 (Minggu) Mei.

 

Versi panggung The Fairy Problem terbuka untuk umum dalam waktu terbatas.
Bahasa: ditampilkan dalam bahasa Jepang, teks bahasa Mandarin.
Biaya menonton: gratis

Situs web lokal khusus (bahasa Mandarin): https://mp.weixin.qq.com/s/6K8wmVrbiU9_6vPH6L6lS

 

Versi panggung The Fairy’s Problem (tanpa teks, dengan subtitle dalam enam bahasa)
Proyek Distribusi Online Yayasan Jepang
STAGE BEYOND BORDERS -Pemilihan Pertunjukan Jepang
Masalah Peri:
https://youtu.be/svjSi3xsa80

Versi bahasa Indonesia yang didistribusikan

Tanggal: 30 Mei (Minggu), 15:30 – (waktu Indonesia) / 17:30 – (waktu Jepang)
Pemutaran versi Indonesia dari A Matter of Fairies, yang menggunakan beberapa rekaman footage dari pertunjukan online sebelumnya sambil bekerja dengan pemeran lokal yang baru.

Bahasa: Dipentaskan dalam bahasa Jepang dan Indonesia, teks bahasa Indonesia*.

 

Biaya menonton: gratis (perlu reservasi)
Formulir reservasi (Bahasa Indonesia): bit.ly/RegistrasiMasalahPeri

 

Proyek Distribusi Online Yayasan Jepang
STAGE BEYOND BORDERS -Pemilihan Pertunjukan Jepang
‘A Matter of Fairies’ https://youtu.be/svjSi3xsa80

Sesi bicara

Sabtu 29 Mei (hanya di Tiongkok) 17:00- (Waktu Tiongkok) / 18:00- (Waktu Jepang) Sesi bincang-bincang di dua negara, Jepang dan Tiongkok. Adegan teater dan konteks budaya di Jepang dan Cina akan dibagikan dan dipertukarkan satu sama lain untuk memperdalam pemahaman tentang The Fairy Problem.

 

Pembicara: Zhang Yuan (Shanghai, produser lokal), Shi Ke (Shanghai, kritikus teater, aktor), Old Fairy (Shanghai, perusahaan teater lokal), Satoko Ichihara (Jepang) Tonton: https://is.gd/AB8Zgh (bilibili)

 

30 Mei (Minggu) setelah pemutaran versi Indonesia (gabungan China-Indonesia) Sesi bincang-bincang bersama antara Jepang, Tiongkok dan Indonesia. Apakah ‘peri’ yang disebutkan dalam film? Apakah “hal-hal yang tidak terlihat (atau yang seharusnya tidak terlihat)” dalam masyarakat masing-masing? Sesi bincang-bincang ini akan bertukar kesadaran tentang masing-masing masalah ini melalui film.

 

Pembicara: Zhang Yuan (produser, Shanghai), Lao Jie (perusahaan teater, Shanghai), Muhammad Abe (produser, Yogyakarta), Rebecca Kezia (peneliti dan produser seni pertunjukan, Yogyakarta), Arsita Iswardhani ( Aktor, Yogyakarta), Satoko Ichihara (Jepang) Reservasi (distribusi Indonesia): bit.ly/RegistrasiMasalahPeri

Lain-lain / Pertanyaan.

Precog co.,LTD.
TEL:+81 3-6825-1223 Email: info@precog-jp.net

Pesan dari artis

Saya tak sabar melihat bagaimana pertunjukan ini diterima oleh penonton di China dan Indonesai dan dialog seperti apa yang terjadi dari karya ini.

ICHIHARA Satoko

 

Questions of Fairies (Masalah Peri) adalah karya Satoko Ichihara yang kuat, menggunakan humor dan komedi hitam sebagai perangkat untuk membicarakan tubuh perempuan dan membicarakan budaya patriarki yang membelenggu keseharian kita, tanpa membuat penghakiman. Pertunjukan ini mengganggu budaya normatif dengan menukik pada detail-detail yang menggugah pikiran kita tentang hal-hal yang sebelumnya kita anggap menjijikkan dan kita hindari. Keberanian Satoko dalam mengeksplorasi gagasannya lewat bahasa dan ikon-ikon yang tak terduga merupakan suatu contoh baik para pekerja teater Indonesia agar dapat menemukan ikon dan bahasa artistik yang nakal dan segar, tanpa harus kehilangan kedalaman makna.

Muhammad Abe

Profil

Satoko Ichihara

Penulis, Sutradara dan novelis. Lahir tahun 1988 di Osaka, dibesarkan di Fukuoka, Jepang. Mempelajari tetaer di Universitas J.F. Oberlin. Ichihara Satoko telah memimpin kelompok teater Q sejak 2011. Dia menulis dan menyutradarai pertunjukan tentang perilaku manusia, fisiologi tubuh, menggunakan pendekatannya yang unik pada bahasa dan sensitifitas tubuh ia mengangkat tema-tema yang jarang disentuh. Pada tahun 2011 menerima Aichi Arts Foundation Drama Award lewat naskah “Insects”. Pada tahun 2017 dinominasikan sebagai finalis untuk Kishida Kunio Playwriting Prize ke-61 untuk naskah “Favonia Fruitless Table.” Tahun 2019 menerbitkan koleksi ceritanya yang pertama, Mamito no tenshi (Mamito’s Angel)/ Karyanya yang terkini The Bacchae-Holstein Milk Cows, berdasarkan tragedi Yunani, tampil perdana di Aichi Triennale 2019 dan memenangkan Kishida Kunio Playwriting Prize ke-64. Dia adalah Junior fellow di Saison Foundation.

Muhammad Abe
Produser Lokal(Versi bahasa Indonesia yang didistribusikan)

Muhammad Abe adalah seniman/peneliti/produser berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Saat ini ia adalah Direktur Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF), platform untuk mempromosikan naskah-naskah baru dalam Bahasa Indonesia. Bersama IDRF, ia juga menjadi produser bagi Asia Playwrights Meeting 2019 di Yogyakarta, Indonesia, menjadi tuan rumah bagi para penulis naskah dari Asia Tenggara dan Jepang. Pada tahun 2019, ia juga menjadi produser bagi First Date, Festival Naskah Lakon di Ovalhouse, London, UK, festival untuk memperkenalkan naskah-naskah lakon Indonesia pada public di London. Pada tahun 2020, ia menjadi produser untuk memperkenalkan naskah-naskah Asia di Ho Chi Minh, Vietnam untuk memperkenalkan naskah-naskah Asia kepada public. Pada tahun 2020, ia juga memproduksi karya bersama kolektif seni pertunjukan Gymnastik Emporium, dalam karya SKJ#2020 yang menjadi penampil utama untuk Indonesia Dance Festival 2020. Selain pertunjukan, Muhammad Abe juga salah satu penyelenggara untuk Konferensi Pertunjukan dan Teater Indonesia.

Menyelesaikan sarjana di Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UGM dan pascasarjana di Kajian Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana UGM. Muhammad Abe tertarik pada bidang sejarah, performance studies, distribusi pengetahuan lewat seni, dan mempromosikan seni kontemporer lewat seni. Pada setiap produksi, ia menekankan pentingnya peran riset dan data untuk memberikan nilai tambahan, serta untuk menilai pertunjukan.

Zhang Yuan
Produser Lokal(Distribusi subtitle bahasa Mandarin)

Seorang kurator, produser dan penulis seni pertunjukan kontemporer. Dia telah mengorganisir banyak proyek pertunjukan, pameran, ceramah, dan lokakarya bekerja sama dengan teater, festival, museum, dan institusi seni di Tiongkok dan luar negeri, memfasilitasi kolaborasi internasional dengan kancah seni pertunjukan kontemporer lokal Pada tahun 2020, dia mengkurasi 20 tahun terakhir seni pertunjukan kontemporer di Tiongkok. Sejak tahun 2017, ia telah menjadi Kurator Seni Pertunjukan di Shanghai Ming Museum of Contemporary Art (McaM), mengkurasi musim pertunjukan, menghadirkan dan menugaskan berbagai proyek pertunjukan, dan produksi bersama internasional dengan festival dan institusi; sejak 2020 ia bekerja sebagai pekerja lepas.

Tim Produksi

‘Masalah Peri’ (‘The Question of Fairies’) Online Tour

 

Penulis Drama / Sutradara: Satoko Ichihara

 

Penampil: Uul Sjareefah Lail, Aik Vela

Penampilan video:Sanae En, Kyoko Takenaka, Hanaka Terada, Kanako Nishida, Keisuke Hidaka (FUKAIPRODUCE-hagoromo), Takako Yamamura (Seinendan), Tamari Yamane

Komposer Musik:Masashi Nukata (Tokyo Shiokoji / Nuthmique)

Piano (Rekaman): Ryo Sugimoto

Producer: Muhammad Abe

Kru Video: Yustiansyah Lesmana & crew

Manajer produksi: BM Anggana

Desain Publisitas: Makhrus Amri

Penerbit (Media Sosial): Amelia Rizqi Fitriani

 

Direktur teknis: Takaki Sudo

 

Manajer Perusahaan:Makiko Yamazato (Q)

 

Producer: Tamiko Ouki (precog)

Production Manager: Yuina Baba (precog)

Asisten produksi: Nanami Endo (precog)

 

Produksi:Q

Dipersembahkan oleh:DRIFTERS INTERNATIONAL

 

Didukung oleh: Arts Council Tokyo (Tokyo Metropolitan Foundation for History & Culture),The Japan Foundation Asia Center Grant Program for Enhancing PeopletoPeople Exchange (under application)

 

Perencanaan dan Manajemen Produksi oleh precog co., LTD

Produser eksekutif: Akane Nakamura

Pejabat Eksekutif / Direktur Publisitas & Branding: Kao Kanamori

Produser Senior: Kumi Hiraoka

Produser Utama: Mai Hyodo

Kepala Administrator: Yuka Morita